APISI memasuki usia ke-empat hari ini. Tidak terasa masa kepengurusan yang seharusnya bergulir tahun lalu, akhirnya malah menuntun APISI pada sebuah bentuk yang baru, dengan personel yang tidak berbeda. Memang, niatan Musyawarah Nasional APISI sudah tercetus sejak setahun lalu. Namun karena memang secara organisasi, APISI sudah tidak punya anggota sejak memasuki tahunnya yang ke dua, karena tidak ada pembaruan keanggotaan. Jadi, perubahan APISI ini dilakukan berdasarkan musyawarah pengurus. Agak menyalahi ketentuan AD/ART sebetulnya, tapi apa boleh buat.
Situasi ini juga tidak bisa dihindari lagi sejak lahirnya adik baru kami, ATPUSI (Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia) yang kelahirannya dibidani oleh beberapa pengurus dan koordinator wilayah APISI. Positioning sudah tidak terelakkan lagi, dan dengan situasi yang ada saat ini, perlu dilakukan dengan segera, sebelum APISI menjadi mati suri lebih lama lagi dan kehilangan geretnya.
Lewat akun Facebook beberapa waktu lalu, sempat dibuka kesempatan untuk memberi masukan tentang APISI dalam kaitan berakhirnya masa bakti kepengurusan. Beberapa memberi masukan berasal dari Umi Proboyekti agar APISI menjadi semacam wadah kelompok think-tank bidang kepustakawan sekolah. Siti Alpiyah, Rizal berpendapat bahwa APISI hendaknya menjadi wadah kreatifitas dan ajang diskusi. Slamet menambahkan bahwa APISI masih diharapkan untuk melanjutkan kampanye literasi informasi ke daerah daerah. Tentunya, kegiatan ini bisa menjadi sebuah kesempatan untuk memperagakan best practice pengelolaan perpustakaan sekolah lewat seminar maupun pelatihan.
Pak Blasius Sudharsono menyarankan untuk adanya transformasi dari APISI menjadi APPISI (Asosiasi Pustakawan dan Pekerja Informasi Sekolah Indonesia). Secara pribadi, saya tidak menolak masukan ini. Setelah melewati musyawarah dalam kepengurusan, akhirnya APISI tetap dipertahankan sebagai brand yang sudah terbentuk menyertai kegiatan dan pergerakannya selama ini. Namun demikian, kata pustakawan seperti yang diusulkan diatas, direfleksikan dengan jelas pada program yang akan kami jalankan ke depan yaitu Program Pengembangan Profesi Pustakawan Sekolah.

Evaluasi Empat Tahun APISI
Sebelum lanjut pada bentuk baru APISI, maka berikut adalah rangkuman kegiatan yang sudah kami lakukan selama empat tahun baik dalam bentuk seminar maupun pelatihan:
Tema yang menjadi sorotan utama APISI:
- Literasi Informasi sebanyak empat puluh delapan (48) sesi
- Model Literasi Informasi sebanyak tujuh belas (17) sesi
- Perpustakaan dan Pustakawan sekolah sebanyak 47 sesi
- Lain-lain: misalnya Bacaan Anak, Software perpustakaan, Perpustakaan 2.0, Manajemen Perpustakaan Sekolah dan ISO 9001-2000 sebanyak 36 sesi.
Adapun daerah yang sudah pernah dikunjungi APISI dalam rangka promosi literasi informasi dan kepustakawanan sekolah adalah:
- Propinsi DKI Jakarta Raya
- Propinsi Jawa Barat (Bogor, Sukabumi dan Bandung)
- Propinsi Banten (Tangerang Selatan)
- Propinsi Jawa Timur (Surabaya dan Malang)
- Propinsi Sumatra Utara (Medan)
- Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Pidie – kerjasama dengan Sekolah Sukma Bangsa, Pidie)
- Propinsi Sulawesi Selatan (Makassar)
- Propinsi Bali (Denpasar)
Kami menerima masukan dari rekan-rekan yang memberi masukan untuk perbaikan APISI ke depannya. Salah satunya adalah dari Manggalani Cendekia melalui skripsinya yang berjudul “Peranan APISI dalam Meningkatkan Kompetensi Pustakawan Sekolah: studi kualitatif mengenai peranan Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah (APISI) dalam meningkatkan kompetensi pustakawan sekolah”,pada tahun 2009. Adapun rangkumannya adalah sebagai berikut:
- APISI perlu mencari lebih banyak lagi anggota untuk memperoleh masukan kas yang nantinya memudahkan perputaran roda keorganisasian APISI
- Mengembangkan sistem divisi APISI, yang menjalankan pekerjaan pekerjaan pengembangan organisasi seperti divisi mencari anggota, divisi promosi
- Kegiatan kegiatan yang sudah dilakukan hendaknya dilebarkan lagi ke daerah daerah lain yang belum tersentuh
Hal yang perlu dipertahankan atau disadari sebagai aset yang patut dikembangkan dalam APISI adalah:
- Jejaring dalam level Nasional maupuan International.
- Personil pengurus yang handal dan profesional dalam bidangnya
- Blog dan web organisasi
- Kesekretariatan, meskipun masih attach dengan tempat tinggal salah satu pengurus
- Buletin AKURASI yang dulu sempat terbit dua kali
- Beberapa produk poster dan bookmark sebagai bentuk penyemarak promosi literasi informasi
- Kumpulan paper dari topik topik seminar dan pelatihan yang pernah diadakan.
Siap Melangkah!
Akhirnya, kami siap mengambil tanggung jawab baru dalam bentuk organisasi yang sedikit berbeda. Kami akan fokus dalam tiga kegiatan besar rutin yaitu:
1. Seminar Perpustakaan Sekolah, yang akan diadakan setiap bulan Oktober dalam rangka perayaan International School Library Month atau kami menyebutnya BUPES (Bulan Perpustakaan Sekolah).
2. Kelas Pendek Perpustakaan Sekolah, yang merupakan kelas reguler untuk pengembangan kompetensi pustakawan sekolah yang akan diadakan tiap bulan Januari dan Juli tiap tahunnya.
3. Pelatihan Dasar Perpustakaan Sekolah, yang merupakan bentuk dukungan kami untuk program pengembangan perpustakaan di sekolah. Kami siap menjadi nara sumber jika ada permintaan khusus dari siapa saja yang ingin mengadakan acara pelatihan ini di tempat mereka.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih bagi mereka yang selalu ada dan mendukung segala kegiatan APISI juga para peserta kegiatan kegiatan APISI. Kami siap memajukan kepustakawanan sekolah di Indonesia. Majulah kepustakawanan Indonesia. Majulah kepustakawanan sekolah Indonesia. Viva APISI!

