APISI dan Pentingnya Berjejaring

Dipublikasikan oleh APISI pada

oleh Hanna Latuputty

Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI) lahir pada tanggal 26 Agustus 2006 di Bogor.  Kelahirannya sebetulnya dibuahi oleh Pertemuan Informal Pustakawan Sekolah (PIPS) 1 dan 2 yang terlaksana pada bulan Oktober 2005 dan Februari 2006.  Sebenarnya, PIPS ini juga merupakan kegiatan yang terinspirasi dari Pertemuan Informal Perpustakaan yang diselenggarakan sebagai wujud kopdar (kopi darat) dari komunitas anggota ICS.

Keinginan untuk bertemu, berkumpul dan belajar bersama dalam persiapan PIPS ini sebetulnya dikarenakan oleh banyaknya suara yang terdengar dari pustakawan sekolah yang merasa perlu suatu bentuk acara pengembangan profesionalitas di bidang kepustakawanan sekolah yang dinilai kurang pada saat itu.

Selama ini, kepustakawan sekolah memiliki kecenderungan untuk berjalan sendiri-sendiri.  Kehiruk pikukan pekerjaan di perpustakaan sekolah ditanggung sendiri oleh pengelolanya.  Segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau tugas rutin sehari-hari, seperti melayani siswa ataupun guru untuk meminjam atau mengembalikan buku, menolong mereka mencari informasi yang diperlukan, melayani pertanyaan siswa seputar pelajaran sekolah di perpustakaan, merapikan buku-buku dengan mengembalikannya ke rak sampai kepada tugas-tugas manajerial yang berkaitan dengan pengembangan perpustakaan sekolah seolah-olah menjadi beban yang sangat berat bagi pustakawan sekolah.  Lebih-lebih jika ia adalah seorang single librarian.

Bentuk pergumulan pustakawan sekolah lainnya muncul dalam bentuk kurangnya dukungan sekolah, baik itu dukungan moril maupun material.  Banyak sekali keluhan bahwa perpustakaan tidak mendapat kedudukan penting dalam tatanan keorganisasian sekolah.  Alokasi dana untuk perpustakaan dirasa sangat minim.  Pihak sekolah lebih memberi prioritas terhadap fasilitas sekolah lain daripada perpustakaan sekolah.  Belum lagi dengan tantangan dari dalam diri kita seperti perasaan-perasaan terbuang karena dipindahkan ke perpustakaan daripada mengajar, misalnya.

Tantangan seperti ini akan terasa leboh ringan untuk dihadapi jika kita ada untuk satu dan lainnya.  Sebuah pertemuan rutin informal ataupun sebuah organisasi yang mewadahi para pustakawan sekolah akan menjadi sebuah media komunikasi yang baik untuk saling berbagi, saling membantu, saling belajar, saling mendukung dan mencari solusi bersama.  Pertemuan maupun keorganisasian ini tentunya tidak menjanjikan akan suatu solusi dari begitu beragamnya masalah dalam dunia kepustakawanan, namun sekurang-kurangnya memberikan sebuah fasilitas kerjasama yang baik dalam mencari solusi untuk permasalahan yang dihadapi.

Kemajuan dunia kepustakawanan sekolah juga akan semakin cepat mengikuti perkembangan jika profesionalisme di kembangkan bersama dan serentak.  Memang pada kenyataannya, kondisi tiap-tiap sekolah berbeda. Baik itu dari segi kualitas sumber daya manusia, koleksi, tempat, dan faktor lainnya.  Namun, jika selalu ada kesempatan belajar bersama dan kesadaran untuk membagi pengetahuan profesi, niscaya kemajuan dunia kepustakawanan sekolah akan cepat bergerak maju.  Memang kemudian disadari bahwa kemajuan global dunia kepustakawanan tidak dapat hanya dilakukan oleh pustakawan sekolah saja.  Peran penunjang kemajuan kepustakawanan seperti tenaga pendidik, pemilik sekolah, orang tua, penerbit buku, penulis buku, pengembang perangkat lunak perpustakaan sekolah, pendidik dan pemerhati pendidikan lainnya juga memegang peranan penting dalam memajukan dunia kepustakawanan sekolah pada khususnya dan pendidikan pada umumnya.

Tak pelak lagi bahwa dengan bergandengan tangan, kepedulian satu sama lain dan membina terus jaringan yang sudah ada akan menjadikan segala persoalan dalam dunia kerja kita semakin ringan.  Dengan berangkat dari kebutuhan yang ada dan titian jejaring yang sudah terbentuk, kita dapat maju bersama mewujudkan masyarakat kepustakawanan sekolah dan para pekerja informasi sekolah semakin maju guna menjadikan pendidikan anak-anak dan remaja Indonesia semakin unggul di masa yang akan datang, seiring dengan berkembangnya profesionalitas dan apresiasi pustakawan sekolah maupun pekerja informasi profesional sekolah ke arah yang lebih baik. Mari

Kategori: Berita