Lokakarya “Below 45: Equipping the Librarians, Empower the Community to Embrace 2045” yang diadakan pada Kamis, 6 Februari 2025 via Zoom menyoroti peran krusial pustakawan dalam mempersiapkan masyarakat Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Ka Adry Guinn, seorang diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat, juga merupakan kandidat doktoral dalam kepemimpinan strategis di Oral Roberts University, dengan fokus pada strategic foresight menjadi pembicara tunggal pada lokakarya kali ini. Kehadiran Ka Adry memberikan perspektif global dan keahlian dalam merancang strategi masa depan yang relevan dengan perkembangan perpustakaan di Indonesia.
Ka Adry menekankan bahwa perpustakaan, yang seringkali dipandang sebagai tempat penyimpanan buku, kini bertransformasi menjadi pusat komunitas yang dinamis, tempat berbagi ilmu, literatur, seni, dan pengetahuan lainnya.
Dalam konteks ini, pustakawan bukan lagi sekadar penjaga buku, melainkan seorang “tour guide” atau pemandu yang memandu masyarakat dalam menjelajahi kekayaan informasi dan pengetahuan. Perpustakaan juga seharusnya bertransformasi menjadi CLH (Collaboration, Learning, Hub), yaitu ruang kolaborasi, pembelajaran, dan pusat komunitas inklusif bagi masyarakat.
Evolusi Pustakawan dalam Era Informasi
Shaxsons K* mengidentifikasi empat evolusi peran pustakawan:
- Information Intermediate: Pustakawan sebagai perantara informasi, membantu masyarakat menemukan sumber informasi yang relevan.
- Knowledge Translators: Pustakawan sebagai penerjemah pengetahuan, mengubah informasi kompleks menjadi pengetahuan yang mudah dipahami.
- Knowledge Brokers: Pustakawan sebagai penghubung pengetahuan, menghubungkan individu dan kelompok dengan pengetahuan yang mereka butuhkan.
- Innovation Brokers: Pustakawan sebagai pendorong inovasi, memfasilitasi penciptaan pengetahuan baru dan solusi inovatif.
Sudah sampai mana peran kita?


Peran Asosiasi Pustakawan dalam Advokasi
Untuk mewujudkan peran-peran tersebut, ikatan atau asosiasi pustakawan perlu menjalin hubungan yang erat dengan pemerintah. Tujuannya adalah untuk mengubah pola pikir tentang peran pustakawan, dari sekadar penjaga buku menjadi agen perubahan yang memberdayakan masyarakat.
Pemerintah memiliki peran sentral dalam penyusunan kebijakan terkait pendidikan, literasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan menjalin hubungan yang baik, asosiasi pustakawan dapat memberikan masukan dan rekomendasi yang konstruktif dalam penyusunan kebijakan yang mendukung peran pustakawan.
Kolaborasi seperti apa yang perlu kita bangun dengan pemerintah, komunitas, dan sektor swasta untuk memaksimalkan peran pustakawan?
Hubungan Pustakawan dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI)
Pustakawan memiliki peran penting dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index). HDI mengukur tiga dimensi pembangunan manusia:
- Hidup sehat dan panjang umur
- Pendidikan
- Standar hidup layak
Pustakawan dapat berkontribusi dalam mengatasi tantangan dalam spektrum dalam HDI, seperti angka kematian bayi, buta huruf, dan kemiskinan, melalui penyediaan informasi dan pengetahuan yang relevan.
Apa saja yang bisa dilakukan oleh pustakawan dalam membantu peningkatan HDI?
- Menyelenggarakan program literasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hidup sehat.
- Menyediakan akses ke sumber belajar dan pelatihan keterampilan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
- Memfasilitasi akses informasi tentang peluang ekonomi dan kewirausahaan untuk meningkatkan standar hidup masyarakat.
Dengan demikian, pustakawan memainkan peran penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yaitu masyarakat Indonesia yang cerdas, sehat, dan sejahtera.


