Dalam sebuah sesi TEDx yang inspiratif, Natalie Hauff (2023) menantang cara pandang konvensional kita terhadap perpustakaan. Jika selama ini kita menganggapnya sebagai “tempat buku yang sunyi,” Hauff menunjukkan bahwa perpustakaan modern telah berevolusi menjadi ruang dinamis yang meminjamkan alat pertukangan, teleskop, hingga bantuan digital.

Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan perwujudan dari konsep infrastruktur sosial. Konsep yang dipopulerkan oleh Eric Klinenberg (2018) ini mendefinisikan perpustakaan sebagai ruang publik yang membangun koneksi, ketangguhan, dan rasa saling memiliki di tengah masyarakat.

Menjembatani Kesenjangan Digital dan Sosial

Salah satu poin krusial yang diangkat Hauff adalah peran perpustakaan dalam menghapus hambatan partisipasi warga. Ketika seorang pustakawan membantu warga mengunggah dokumen hukum atau membuat akun email, mereka sedang melakukan aksi nyata melawan kesenjangan digital (digital divide). Hal ini sejalan dengan pernyataan IFLA (2017) bahwa literasi digital adalah kunci inklusi sosial di era modern.

Realita dan Tantangan di Indonesia

Sebagai pegiat literasi di Indonesia, inspirasi dari Hauff ini membawa kita pada refleksi yang lebih dalam mengenai kondisi lokal. Meskipun pemerintah mulai mendorong program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), tantangan struktural masih sangat nyata:

  1. Kesenjangan Koleksi: Berdasarkan data Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2023, rasio kecukupan buku kita masih di angka 1:0,02. Artinya, satu buku masih harus diperebutkan oleh sekitar 50-90 orang—sangat jauh dari standar UNESCO (3 buku per orang).
  2. Infrastruktur yang Belum Merata: Di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), bantuan digital yang disebut Hauff sulit terwujud karena masalah dasar seperti listrik dan akses internet yang belum stabil.
  3. Kesejahteraan Tenaga Literasi: Inovasi membutuhkan sumber daya manusia yang terlatih. Namun, banyak perpustakaan desa dan sekolah masih dikelola oleh tenaga honorer dengan pendapatan yang sangat minim, sehingga fokus mereka seringkali tersita untuk kebutuhan hidup dasar daripada mengembangkan program kreatif.

Perpustakaan lebih dari sekadar buku; ia adalah jantung dari komunitas. Namun, evolusi perpustakaan menjadi ruang inklusif tidak bisa terjadi secara organik tanpa dukungan kebijakan dan anggaran yang nyata.

Agar perpustakaan tidak hanya menjadi “previlese” masyarakat di kota besar, pemerintah perlu memprioritaskan pemataan infrastruktur dan kesejahteraan pustakawan. Dengan begitu, perpustakaan benar-benar bisa menjadi tempat di mana setiap orang, tanpa terkecuali, mendapatkan martabat dan peluang yang sama.


References

  • Hauff, N. (2023). Bicycles, power tools, and community: The evolution of libraries [Video]. YouTube.
  • International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA). (2017). IFLA Statement on Digital Literacy.
  • Klinenberg, E. (2018). Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life. Crown.
  • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2019). Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) 34 Provinsi.
  • Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). (2023). Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

Kategori: Berita