Merayakan perjalanan dua dekade di dunia literasi, Asosiasi Pekerja Profesional Informasi Sekolah Indonesia (APISI) membawa semangat baru yang ingin digaungkan ke seluruh penjuru negeri. Di usia yang ke-20 ini, APISI berkomitmen penuh untuk mendorong lahirnya para Librarian Leader, sosok pemimpin perpustakaan masa kini yang proaktif, berdampak, dan mampu membawa perubahan nyata.

Komitmen ini diwujudkan melalui kolaborasi apik bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam acara Professional Development Talk bertajuk “Empowering the Next Generation of Library Leaders” pada Kamis (2/7/2026) lalu.

Acara yang diadakan langsung di Perpustakaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, ini menghadirkan Azra Arumaisha, M.A. (Asisten Dosen Ilmu Perpustakaan UI & Alumna UCL) sebagai narasumber, serta dipandu secara interaktif oleh Robertus Wibowo (Teacher Librarian SPH Lippo Village dan Ketua Divisi Edukasi APISI).

Mengintip Konsep ‘Idea Store’

Sering kali kita membayangkan perpustakaan sebagai tempat yang sepi, kaku, dan penuh dengan rak buku berdebu. Namun, seorang Librarian Leader tidak akan membiarkan stigma itu bertahan. Kak Azra membagikan cerita inspiratif tentang “Idea Store”, sebuah konsep perpustakaan umum di Inggris yang sukses bertransformasi menjadi pusat kegiatan masyarakat (community hub).

Di sana, perpustakaan membuktikan bahwa proses belajar itu luas banget dan gak cuma terbatas pada kegiatan membaca (learning happens beyond reading). Di Idea Store, masyarakat bisa datang untuk ikut berbagai macam kursus keterampilan, bahkan ada fasilitas untuk cek kesehatan gratis!

Perubahan luar biasa ini terjadi karena ada peran pemimpin di baliknya. Melalui pendekatan ini, pustakawan hadir sebagai Librarian Leader yang jeli melihat peluang untuk memberdayakan masyarakat melalui keterampilan dan layanan yang bisa dinikmati bersama (shared skills and services), sekaligus mengajak komunitas untuk ikut berkontribusi aktif.

Pustakawan Adalah Edukator

Transformasi perpustakaan tentu gak akan bisa jalan tanpa adanya perubahan pola pikir dari orang-orang di balik layarnya. Kak Azra mengingatkan dengan tegas kalau peran pustakawan sebenarnya adalah seorang pendidik (librarians are educators). Jiwa edukator inilah yang menjadi fondasi utama untuk menjadi seorang Librarian Leader.

Tantangan klasik seperti keterbatasan anggaran sering kali menjadi alasan utama mandeknya inovasi. Menariknya, Kak Azra berpesan agar keterbatasan finansial ini jangan sampai membuat kita mengalami mental block.

“Jangan batasi kreativitas kita karena alasan dana. Di sinilah tugas seorang Librarian Leader untuk merangkul dan melibatkan komunitas (involve communities) di sekitar kita untuk saling berkolaborasi,” jelasnya. Untuk menghadapi dinamika perubahan ini, seorang pemimpin harus memegang tiga kunci utama: Proaktif, Inovatif, dan Resiliens (punya daya lenting yang kuat).

Reframing the Profession

Sebagai penutup diskusi, para peserta diajak untuk melakukan reframing, alias mengubah cara pandang kita terhadap profesi ini. Keberadaan seorang pustakawan itu gak ditentukan dari seberapa megah gedung tempatnya bekerja, melainkan dari keahlian, profesionalisme, dan seberapa besar dampak nyata yang bisa mereka berikan ke lingkungan sekitar (defined by our profession, expertise, and impact).

Di momen ulang tahun ke-20 APISI ini, konsep Librarian Leader menjadi panggilan bagi kita semua untuk tidak ragu lagi dalam menunjukkan kapasitas diri. Librarian Leader yang ideal di masa sekarang adalah mereka yang bisa membawa pengaruh positif (influence), berani mempromosikan keahlian yang dimiliki (jual skill), serta gak ragu untuk tampil di depan sebagai panutan (being visible and a role model).

Kuncinya? Semua itu berawal dari cara kita berkomunikasi. Seorang Librarian Leader harus memiliki keterampilan komunikasi yang terbuka (open) serta pembawaan yang ramah dan mudah didekati oleh siapa saja (easy to be approached). Saatnya kita mengambil peran dan menjadi pemimpin perubahan di perpustakaan kita masing-masing!