Perpustakaan sekolah sudah berubah peran dan bentuknya tidak hanya sebagai tempat menyimpan buku-buku yang dipinjamkan, namun sebagai pusat sumber belajar (resource learning centre). Penyelenggaraan perpustakaan sekolah harus sejalan dengan visi dan misi sekolah, salah satunya yaitu menyiapkan tersedianya materi penunjang pembelajaran sesuai kurikulum. Perpustakaan sekolah dapat membuat program mulai dari kegiatan pameran buku, konser musik, diskusi, presentasi hasil karya siswa, pelatihan, seminar, serta kegiatan lainnya yang dapat memotivasi siswa belajar sepanjang hayat.
Pustakawan sekolah, tidak lagi bertugas menjagai koleksi perpustakaannya. Saat ini, perannya sudah dituntut untuk lebih proaktif, peka terhadap dinamika pembelajaran sekolah serta turut aktif terlibat dalam menopang kegiatan pembelajaran para siswa dan guru. Dengan demikian, perpustakaan bukan lagi menjadi tempat yang sunyi senyap dan membosankan melainkan menjadi tempat pembelajaran siswa yang positif dan dinamis. Hal ini menuntut kreatifitas pustakawan dalam mengemas program-program pembelajaran perpustakaan yang bervariasi. Salah satu cara mengembangkan kreatifitas ini selain belajar sendiri adalah dengan berbagi atau sharing.
Sesuai dengan visi APISI untuk menunjukkan eksitensi profesional informasi sekolah melalui proses pengembangan diri secara terus menerus untuk menciptakan dunia kepustakawanan sekolah yang lebih bergairah, maka APISI kembali mengadakan sebuah acara pertemuan pustakawan sekolah sekaligus merayakan Bulan Perpustakaan Sekolah Dunia yang merupakan rangkaian kegiatan regular seminar APISI tiap tahunnya.
Kali ini APISI mengemas acara yang diberi judul Sarasehan dan Sharing Pustakawan SEkolah: Creative Librarian : Teaching for Meaningful Learning. Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 11 Oktober 2014, bertempat di Sekolah Terpadu Pahoa. Narasumber utama yaitu Henny Supolo Sitepu yang membawakan materi tentang Pustakawan dan Keragaman. Konsep keragaman dapat menjadi salah satu titik pembelajaran melalui perpustakaan sekolah. Dalam hal pembelajaran di sekolah, selayaknya siswa diajarkan untuk lebih menghargai segala perbedaan dan melihat perbedaan sebagai keberagaman untuk diterima dan bukan untuk pembedaan yang menimbulkan perpecahan. Menurut Henny, perpustakaan sekolah dapat berperan dengan memberikan layanan informasi kepada komunitas sekolah dengan melengkapi beragam koleksi yang mengangkat keragaman agama dan budaya bangsa Indonesia sebagai kekayaan bangsa.
Dengan konsep acara sarasehan dan sharing ini, diharapkan peserta dapat lebih santai dalam berdiskusi tentang program kegiatan perpustakaan berkualitas yang sudah pernah mereka terapkan. Peserta juga bertukar pengalaman tentang apa yang telah mereka kerjakan dan hasil yang telah mereka kerjakan.
Sepanjang acara peserta terlihat sangat antusias. Diawali dari sharing Hanna Chaterina George, Ketua Umum APISI yang memperkenalkan APISI melalui video singkat. Kemudian Francisca Messakh, salah satu pengurus APISI, melanjutkan dengan berbagi pengalamannya saat mengikuti seminar IASL di Moscow termasuk isu-isu yang dibicarakan selama konferensi. Dari kedua presentasi tentang organisasi ini, peserta diharapkan menyadari bahwa organisasi profesi menolong mereka untuk mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan dengan mengikuti perkembangan pengetahuan terbaru kepustakawanan sekolah serta saling belajar satu sama lain. Acara dilanjutkan dengan seminar keberagaman oleh Henny Supolo Sitepu dan sharing program kegiatan pustakawan sekolah.
Ada empat pustakawan sekolah yang berbagi untuk sharing program kegiatan perpustakaan dalam acara ini, yaitu Afiyon Kristiyan (Sekolah Terpadu Pahoa), Novi (SPH Karawaci), Hana Krisitina Purba (Sekolah Athalia), dan James Frederick (Sekolah Katolik Rajawali Makasar). Dari acara Sarasehan ini diharapkan peserta membawa banyak ide dari sharing yang sudah dilakukan dan dapat memotivasi dan membuka wawasan pustakawan sekolah supaya lebih kreatif dalam mengembangkan perpustakaan sekolahnya. Khusus pembahasan topik keberagaman, diharapkan peserta dapat memahami bahwa topik hanya salah satu contoh yang dapat diramu sedemikian rupa yang dapat menunjukkan bahwa perpustakaan dapat menjadi agent of change dalam proses pembelajaran di sekolah.
Acara ini dihadiri oleh jajaran Manjemen Sekolah Terpadu Pahoa, Bapak Nurcahyo, Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Sekolah dan Perguruan Tinggi Perpustakaan Nasional dan Ibu Enny Satoto Budiardjo (Ketua Yayasan Boediardjo yang membawahi Sekolah Tanah Tingal. APISI sedang menjadi konsultan pengembangan perpustakaan sekolahnya). Acara ini dihadiri kurang lebih oleh 40 pustakawan sekolah se- Jabodetabek, bahkan ada pustakawan dari Makasar.
By. Afiyon Kristiyan