Oleh Blasius Sudarsono
Sewaktu menerima undangan untuk menulis sekelumit tentang Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI), terbayang oleh saya seakan gambaran seorang anak yang bertanya pada ayahnya siapakah dirinya dan apa perbedaan, kesamaan, dan hubungannya dengan saudara-saudaranya dalam menjalani hidup. Tentu pertanyaan tersebut menjadi sangat penting bagi seorang anak untuk mulai mempertanyakan jati dirinya agar dapat mengembangkannya menjadi pribadi yang utuh. Analogi inilah yang saya pakai sebagai titik tolak memenuhi permintaan agar saya melanjutkan tulisan saya untuk Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) yang berjudul: Mengapa kita berhimpun. Dalam tulisan tersebut saya menyatakan pendapat saya tentang karakter dan hubungan ISIPII dengan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI).
Saya menangkap permintaan itu sebagai gugatan mengapa APISI tidak disebut dan sekaligus juga pertanyaan tentang jati diri APISI dan bagaimana hubungan kekerabatannya dengan IPI dan ISIPII. Mungkin saya terlalu berani mengibaratkan diri saya sebagai ayah. Mungkin juga rekan-rekan APISI tidak berkenan dengan pengibaratan ini. Namun karena saya telah menjalani hidup sebagai pustakawan relatif lebih lama dari para anggota APISI maka bertolak dari posisi itulah saya menulis. Menjadi orang tua sebenarnya harus selalu berhati-hati. Kemajuan jaman seakan menjadikan kaum tua selalu tertinggal dengan kekinian dunia. Sayang tidak semua kaum tua menyadari hal ini. Tidak jarang juga kaum tua memaksakan kehendaknya kepada kaum muda. Maka yang saya tulis adalah pandangan pribadi saya tentang keberagaman organisasi pustakawan dan perpustakaan di Indonesia kini yang perlu di counter dengan pandangan kaum muda.
Keberagaman sebenarnya merupakan keniscayaan bagi Bangsa Indonesia sejak diterimanya konsep Bhineka-Tunggal Ika. Namun dalam perjalanan sejarah kemerdekaan kita akhirnya kita terperosok pada asas sentralistis dan keseragaman. Demikian juga dalam organisasi pustakawan dan perpustakaan kita. Sebelum IPI lahir pada tahun 1973, telah ada beberapa organisasi pustakawan. Yang lebih saya ketahui adalah Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia (HPCI). Sampai sekarang masih ada komponen HPCI yang menganggap bahwa HPCI masih ada karena belum pernah ada rapat luar biasa yang membubarkan HPCI. Itulah sebenarnya yang diatur dalam Anggaran Dasar HPCI. Adalah kecerobohan yang sekarangpun kadang dikerjakan organisasi yang tidak konsekuen dengan aturan yang dibuatnya sendiri. Lihatlah bagaimana para pengurus yang mungkin tidak lagi mau memahami aturan yang ada. Juga dalam pengelolaan organisasi maupun dalam melaksanakan rapat dan konggres. Hal ini perlu lebih dicermati bagi organisasi pustakawan dan perpustakaan yang relatif lebih muda. Apakah kesalahan ini akan diulang lagi oleh kaum muda?
APISI bagi saya merupakan fenomena menarik dari perkembangan organisasi pustakawan dan perpustakaan di Indonesia. Kalau ada yang membuat dikotomi plat merah dan plat hitam, bagi saya APISI adalah murni usaha rekan-rekan non-pemerintah yang harus kita apresiasi. Bibit APISI telah berhasil disemai dengan baik dan telah tumbuh. Memang ibaratnya masih berupa tanaman muda yang perlu selalu dirawat dengan baik dan benar. Tugas merawat inilah yang menjadi tugas bersama anggota APISI, yang pelaksanaannya dipercayakan pada pengurus. Oleh sebab itu upaya merawat inilah yang sekarang menjadi prioritas APISI. Hendaknya juga harus ada kewaspadaan akan bahaya yang tidak saja datang dari pihak luar, namun terlebih harus waspada yang justru muncul dari dalam. Yang dari dalam inilah kadang tidak disadari, bahkan kadang juga muncul karena kecerobohan dalam menjalankan roda organisasi. Saya pribadi menekankan hal ini karena APISI bagi saya juga menjadi organisasi pustakawan dan perpustakaan yang sangat strategis.
Saya katakan peran APISI menjadi strategis karena APISI adalah wadah para pengelola perpustakaan sekolah. Anak datang ke sekolah karena orang tua menyerahkan pendidikan dan pengajaran anaknya kepada pihak sekolah. Meski harus selalu diakui bahwa pendidikan adalah hak dan kewajiban orang tua! Driyarkara, seorang filsuf dan perintis pelajaran filsafat di Indonesia selalu mengingatkan hal tersebut. Pada lingkungan sekolahlah kenyataannya siswa mulai berkenalan dengan perpustakaan. Sehingga siswa tidak akan mengenal perpustakaan apabila sekolahnya tidak memiliki perpustakaan. Siswa juga akan mendapat gambaran yang salah terhadap perpustakaan jika dia berkenalan dengan perpustakaan yang salah kelola. Tugas mengelola dan menjalankan kepustakawanan sekolah adalah tugas pokok anggota APISI. Kata orang kesan pertama sangat menentukan. Perkenalan pertama pada perustakaan akan dapat membuat siswa mencintai perpustakaan, namun ada juga kebalikannya justru membenci perpustakaan. Sikap inilah yang akan terbawa sampai dewasa, apakah perpustakaan nantinya menjadi bagian dari keseharian hidup mereka. Jati diri APISI dan organisasi pustakawan dan perpustakaan sekolah lainnya adalah justru ada pada peran strategis tersebut. Apakah semua angota APISI sudah menyadari akan fungsi strategis ini?
Bagaimana lalu mengembangkan jati diri itu menjadi kepribadian yang penuh? Menurut Driyarkara lagi, bahwa pribadi itu tidak akan penuh jika tidak menjadi kepribadian. Ungkapan ini suka saya teruskan bahwa pustakawan (sekolah) itu tidak akan menjadi penuh jika tidak mengembangkan dan memiliki kepustakawanan (sekolah). Di sinilah APISI dapat belajar dari perjalanan IPI dan memanfaatkan pemikiran para sarjana anggota ISIPII. Namun jelas APISI juga harus berfikir sendiri tentang mana yang dapat dipakai, mana yang harus dikembangkan dan mana yang harus dibangun sendiri dalam mengelola perpustakaan dan menjalani hidup sebagai pustakawan sekolah. Inilah indahnya keberagaman itu! Ibaratnya keberagaman organisasi pustakawan dan perpustakaan di Indonesia adalah potongan-potongan kecil dari jigsaw puzzle, tugas utama kita adalah menyusunnya menjadi gambar utuh dari perpustakaan dan kepustakawanan Indonesia yang indah. Harus diingat bahwa keberhasilan perpustakaan dan kepustakawanan Indonesia bermula dari keberhasilan perpustakaan dan kepustakawanan sekolah. Marilah kita berusaha!
0 Komentar